Minggu, 10 Agustus 2014

MENANG ATAS KEADAAN TIDAK BERDAYA

Syalom!
Minggu lalu kita telah melihat sumber hambatan dan penghalang yang luput dari perhatian kita, padahal yang paling serius yang terlebih dahulu harus diurus, yakni kesalahan dan dosa kita (Yeremia 5:24-25). Dalam lanjutan diskusi minggu lalu tersebut, sekarang kita akan membahas obstacles/hambatan yang secara umum telah menjadi pergumulan semua orang percaya. Yakni keadaan "tidak berdaya". Keadaan tidak berdaya adalah sebuah kondisi terbawah dari seseorang yang menghadapi hambatan/halangan. Tidak berdaya dalam bahasa aslinya bermakna "ringkih" (frail). Yakni kondisi yang sangat tidak stabil dan mudah runtuh. Itu bisa saja terjadi ketika seseorang memiliki masalah finansial dalam rumah tangga/bisnisnya; atau bisa saja ketika ada penyakit/kelemahan fisik seperti cacat/disable. Yang karena itu tidak bisa maksimal dan produktif. Keadaan tidak berdaya juga bisa berarti problem rumah tangga/pekerjaan yang pelik dan diluar kendali. Sehingga kita tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Nats Alkitab kali ini ditulis dalam konteks pemulihan Yerusalem. Yerusalem selalu berbicara rumah maupun umat percaya. Yerusalem berbicara tentang kita. Yang pertama, walaupun dalam kondisi "tidak berdaya", Alkitab tetap menyebut kita pahlawan! Pahlawan sama dengan istilah Roma 8, "more than conqueror/lebih dari pemenang". Jadi kita harus lebih percaya apa yang dikatakan Firman tentang kita lebih dari apa yang perasaan kita katakan tentang kita. Yang kedua, Alkitab mengajarkan agar kita menempa mata bajak jadi pedang dan pisau pemangkas menjadi tombak. Mengasah kembali sumber daya yang ada menjadi lebih efektif dan kuat. Kelemahan bisa membuat kita kalah atau memicu kita untuk menang. 
Maka keadaan tidak berdaya harus dihadapi dengan sikap pahlawan sambil terus mengevaluasi diri dan meningkatkan kualitas kerja. Kita akan melihat keadaan yang berbeda yang luar biasa terjadi dalam kehidupan kita. Amin!

Pengikut